Sabtu, 30 Mei 2009

Namira Bung Sakinah - Nadia raihan

Namira Bunga Sakinah










Aku masih ingat…

Lebih setahun beberapa hari, kita menetap di Banda ,Tepatnya Nov tahun 1999,  Topik pembicaraan semua media , melulu “millenium” semata yang hanya beberapa depa lagi menjelma

Tapi tidak dengan kita di Banda.

Aku masih ingat…

Kita tinggal di Gampong Lambada, nun 10 kilo dari Banda ke Krueng Rayarumah nan nyaman, walau cuma kita sewa. Tiba-tiba semua berubah tanpa tanda. Jargon “referendum “ dimana-mana. Orang banyak menjadi gelisah Kita pun menjadi resah.  Dan kitapun seia-sekata ‘tuk sgra “pindah”

Aku masih ingat…

Tergesa kita ke Pelabuhan Krueng Raya, Mengejar kapal Sangiang yang baru tiba, angkutan terakhir keluar dari Banda Aceh ke luar... Ratusan –mungkin seribuan lebih sdh di sana, Tanah Deli menjadi tujuan kita, Karena di sana keluarga berada,

Aku masih iugat…

Di kapal yang sesak, perut sang bunda mulai meronta, Mungkin kamu tidak nyaman di sanaSang Dokter-pun kupanggil segera, Lama ditunggu, kamu tidak muncul jua. Aku dan sang bundapun lega, Karena kota Medan tujuan kitapun telah jumpa

Aku masih ingat

Tidak sampai 48 jam, kamupun muncul di dunia, Persalinan yang sulit, Ibu Bidan berkata, Tak mengapa kataku, asal bunda dan kamu tidak pa-pa, Kami dan sekeluargapun bersuka cita

Aku masih ingat

Bunda yang bangga dengan anak daranya. Dipilihnya nama untukmu Namira. Katanya itu nama mesjid di Arab tempat nenek dulu berdoa.  Agar kami diberikan anak gadis, karena tlah ada 2 orang jaka. Agar sempurna ditambahnya Bunga Sakinah Imbuhan yang dalam maknanya, Tersirat limpahan cinta dan sebaris cita-cita

Aku masih ingat

Umurmu telah enam bulan, waktu kubawa kembali ke Banda. Rahmat Tuhan sang Pengasih mungkin selalu menyerta. Dirimu tumbuh menjadi bayi sehat tanpa kurang apa. Tubuhmu putih bersih tanpa cela. Penyakipun enggan untuk datang menyapa. Paling hanya flu dan batuk yg memang biasa bagi manusia

Aku masih ingat

Di saat lewat setahun lebih usiamu, banjir besar melanda Banda... Lambadapun tergenang, kamupun tergesa kubawa... Tanpa saudara, semua orang tergesa,.... sulit untuk mendapat bantuan rasanya... Lebih seminggu air dimana-mana

Aku masih ingat

Kota Medanpun menjadi tempatmu sementara, Bunda , abangmu dan kami menetap di sana.. Aku lupa berapa lama waktunya.... Yang jelas lebih sebulan, kalau tak salah

Aku masih ingat

Ketika kamu kembali lagi ke Banda

Dengan mimik khas bayimu, kamu hanya tertawa

Wujud Anugerah Tuhan, sebagai bayi tanpa dosa

Hari-haripun kita lalui dengan ceria

Dua “bencana” kau lalui, pengaruhnya ‘tak tampak

Aku masih ingat

Ketika kegawatan separatis melanda

Kontak senjata menjadi berkala

Suara bom dan letusan selalu bersuara

Banyak anak gelsah dan trauma

Tapi kau tetap biasa tidak pernah malam terjaga

Atau, makan menjadi kehilangan selera

Puji syukur kupanjatkan ke Yang Kuasa

Atas anugerah dan kekuatan yang ada

Aku masih ingat

Saat ada orang bersenjata satroni rumah

Datang ke rumah dengan berbekal senjata

Mengancamku dengan keras kepala

Dan sang bunda dengan parang siaga

Meninggalkanmu di kamar tanpa ada yang jaga

Lalu bunda bertekad, tantangan harus diterima

Nyawa boleh melayang, tapi jasad harus ada

Pantah mundur selangkah, ‘palagi berpuluh depa

Untung si orang bersebjata mengalah, keluar dengan lapang dada

Setelah diberi uang seadanya.

Lalu kami di kamar menjumpa dirimu, tanpa reaksi berbeda

Tetap tidur terlelap seperti semula

Syukurlah, kemudian masa damai telah tiba

Semua usai untuk dilupa

Aku masih ingat

Tahun 2004, ‘tuk mencari selokahan untuk Te Ka

Separuh Banda kita dan Bunda menjelajah

Selalu ada saja di matamu sekolah itu bercela

Yang ini ayunan tidak ada, yang itu TKnya sudah tua

Yang sana jauh dari rumah, yang sini gurunya tdk ramah

Tapi akhirnya pilihanmu TK Ikal jua

Tempat Bang Ade-mu dulu skolah

Aku masih ingat

Betapa susahnya menetapkan kelasmu yang mana

Mestinya nol kecil, tapi tambun tubuhmu menjadi tanya

Masuk nol besar, takut kamu tertinggal pelajaran kelak

Akhirnya nol besar juga untuk sementara,

Dan ke nol kecil bila pelajaran tak sepadan

Aku masih ingat

Betapa dirimu benar-benar anak gadis sang dara

Yang memang jauh beda dengan abangmu yang jejaka

Cermin, mainan masakan dan boneka adalah “hartamu’

Waktu luangmu untuk bersolek dan bergaya

Aku masih ingat

Bang Putramu langganan XY-Kids, dan Bobo -Bang Ade punya,

Majalahku apa ? Kamupun mulai bertanya.

Maka setumpuk lagi majalah mulai berserak di meja

Ini yang sering membuat marah sang Bunda

Hari ini kamu pilih Barnie, besok Bobo Junior,

Kali lain Ino, bisa juga Bob Builder, atau entah apa

Bergantung seleramu, mungkin karena covernya menyala

Atau kadang bonus majalahnya menggoda

Bisa jadi sang abang membisik telinga

Agar sama-sama bisa dibaca

Aku masih ingat

Terkadang cerita dibacakan Bang Putra

Kala jenuh sang Bunda yang biasanya membaca

Atau sering Bang Ade yang satu persatu mengeja

Sang ayah-mu , hanya sempat beberapa

Aku masih ingat

Tokoh kegemaranmu adalah Poh –tokoh teletabis warna merah

Film dan CD kesekuaanmu, Barbie, si gadis jelita

Hobbymu menggambar dan mewarna

Crayon, spidol dan pensil warnamu harus tersedia

Karena inilah senjatamu untuk berkarya

Ketika sang abang mengerjakan PR, kamu duduk di sebelah

Di atas meja lipat dengan tekun menggurat ke sini sana

Membentuk gambar penuh nuansa

Jarimu cukup lincah, kata sang Bunda

Dibanding abangmu pada usia yang sama

Katanya guratan pinsilmu tidak keluar area gambar

Aku masih ingat

Menjelang lahir adikmu, kami bertanya, pingin adik seperti apa

Adik cewek atau laki, terserah kamu saja

Dengan lucu kamu bilang tidak keduanya,

Pinginnya adik kecil bersayap, seperti TV selalu punya cerita…

Aku masih ingat

Ketika kelahiran adikmu –yang lalu diberi nama Nadia

Ada tersirat bangga di mata

Karena selalu kamu pamerkan ke teman tetangga

Dan kamupun sering menjaga tanpa membantah

Tugas utamamu mengayun kala sang Bunda lelah

Atau mencari botol dot, waktu tangis Nadia menggema

Walau terkadang irimu terasa

Kok selalu dibeli baju Nadia terus, kapan punya Namira

Beberapa kali kamu juga hitung celana Nadia

Kali lain kamu bersungut krn waktu mainmu tersita utk menjaga

Tapi itu semua tidak dapat menipu mata

Bahwa sayangmu pada Nadia, benar adanya…

Aku masih ingat

Lebaran 2004 ketika tiba di Medan kita berada,

Sudah 2 tahun tak terasa,

saat terakhir kita dengan nenek lebaran bersama

Suasana riang selalu gembira, sang Nenek telah bersua

Inilah pertama nenek melihat adik kita Nadia

Bayi mungil 4 bulan yang selalu kau bangga

Tak berhenti kamu berceloteh tentang dia

Selolah hanya Nadia satu-satunya bayi di dunia

Aku masih ingat

Dengan bergegas kita harus kembali ke banda,

Karena masa sekolah sekolah tiba

Tapi kamu ngotot ultahmu harus ada acara

Tepat 21 November ulathmu meriah, saat usiamu mencapai 5

Jam 7 bis ke banda sudah menunggu, usai pesta jam 5

Hadiah dan kadomu tidak sempat dibuka

Semua dibungkus ke kotak seadanya.

Dan hampir semua saudara mengantar turut serta

Ternyata inilah terakhir kita semua bersua…

Aku masih ingat

Ketika Awal Desember aku ke luar kota, Singkil tepatnya

Ada beberapa kali, kamu lewat HP menyapa

Minta oleh-oleh seperti biasa,

Atau merengek mengadu krn usil Bang Ade dan Bang Putra

Dan waktu Jum’at aku sudah di beranda

Kau sambut seperti berabad tak jumpa

Aku masih ingat

Tak sabar kamu tanya kado  apa yang dibawa

Secepatnya kamu buka kotak yang ada

Baju dan mainan kesukaanmu ada di sana

Seperangkat spidol gambar yang banyak turut serta

Segera kau coba sebisanya seolah esok hari tak ada

Lalu kau berencana kelak akan kamu bawa ke TeKa

Mau pamer ke kawan dan pamer ke tetangga

Aku masih ingat

Semua itu semua belum terlaksana

Hanya dua hari berselang, prahara telah menerpa

Tsunami meluluhlantakkan kota

Lalu kau hilang entah ke mana

Terhempas dari lenganku, tercampak tak tetntu arah

Hanya Tuhanlah yang tahu pasti di mana

Aku masih ingat

Dua prahara telah kau lalu di Banda

Banjir besar dan ancaman GAM bersenjata

Tapi yang ketiga, mungkin Tuhan punya Kuasa

Kita semua mahluk yang fana tanpa daya

Jadilah aku sang ayah, tanpa bunda

Hilang sang kekasih hati Namira,

Lenyap sang bayi Nadia

Tuhan…..

Ada apa dibalik ini semua ?

Bercucur sudah air mata

Kering hati telah meronta

Mengapa seberat ini aku kau coba ?

Dosa apa kami, hingga terjadi ini semua ?

Entahlah….

Tuhan….

Kuihlaskan semua yang terjadi sudah

Kaulah yang punya Titah, Kaulah Yang Punya Kuasa

Cuma satu yang aku pinta..

Tempatkan mereka di sisimu, surga yang mulia

Sayangilah mereka melebihi sayangku pada mereka

Jagalah mereka dengan limpahan rahmat

Kuatkan hatiku atas kehilangan mereka…

Selalu kuingat firmanku selalu berkata

Di balik setiap musibah selalu ada berkah

Setelah kesulitan ada kemudahan menyerta

Tuhanku…

Sembah sujud kuhadap di depan kau punya Kuasa

Kabulkan , ya Allah apa yang Aku pinta

Agar ku menjalani hidup dengan lega

Tanpa perlu menista segala peristiwa

Yang telah terjadi depan mata…

Maafkan aku, yang Allah yang Maha Kuasa

Jika terlalu banyak yang kupinta

Punyamu segala ada yang di jagad raya

Kami semua adalah mahkluk yang fana tanpa daya…

Mohon ampun atas segala dosa

Yang mungkin terbuat dengan sengaja

Amin Ya Allah…

By; agam,

lampulo-lamgugob-poncowati <>

Catatan :

Kupersembahkan untuk mengingat anak ketiga kami Namira Bunga Sakinah, yang hilang dengan sang Bunda dan adiknya Namira