Minggu, 02 Agustus 2009
SEKEDAR RENUNGAN BAGI MEREKA YANG TELAH MENJADI ORANGTUA...
Sang ayah memiliki banyak pengalaman hidup (jelas, wong sudah berumur..)
Sang anak (meski masih belia) telah memintal pengalaman dari kehidupan yang dijalaninya.
Dua generasi yang berbeda dalam satu kendaraan...
Sang anak menawarkan diri untuk mengemudi,
mengingat betapa sang ayah telah melakukan banyak hal bagi hidupnya,
dan dia ingin menunjukkan bahwa sang ayah telah mendidiknya dengan baik,
sehingga dengan berkendara bersama, sang ayah dapat melihat bahwa sang anak berjalan di jalan yang benar menuju tempat yang dituju.
Selain itu dia juga mempelajari bahwa untuk menuju ke tempat yang dituju, dia memiliki cukup kemampuan untuk mengemudi,
akan lebih menyenangkan bagi sang ayah untuk menikmati perjalanan sambil melihat seberapa banyak hal yang sudah dipelajari sang anak.
Sang ayah hanya perlu memberi petunjuk untuk mengatasi masalah2 yang timbul selama perjalanan,
dan memberikan kesempatan bagi sang anak untuk belajar menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan cara yang benar.
Tetapi kadang-kadang kita menemukan orangtua yang merasa berkeberatan menyerahkan kemudi pada sang anak.
Merasa lebih mampu atau lebih berpengalaman,
dan memiliki kekhawatiran bahwa sang anak tidak cukup memiliki kemampuan mengemudi sebaik yang dimiliki sang ayah.
Atau karena sang ayah melihat bahwa perjalanan yang mereka lalui cukup berbahaya,
dan tidak ingin sang anak menanggung resiko atas kesalahan yang mungkin dilakukan.
Jika kemungkinan terakhir yang berlaku, maka sesungguhnya orangtua telah berlaku overprotektif terhadap anak.
Jika orangtua tidak memberi kesempatan untuk anak melakukan sendiri, bagaimana sang anak bisa belajar mengembangkan diri?
Jika orangtua memberi kesempatan bagi anak untuk melakukan sendiri, maka sang ayah telah menjadi orangtua sebenarnya,
sebagaimana konsep Ki Hadjar Dewantara:
ING NGARSO SUNG TULODHO,
ING MADYO MANGUN KARSO,
TUT WURI HANDAYANI.
sumber :Bintang Wisnuwardhan
http://tinyurl.com/ntxydb
Sabtu, 13 Juni 2009
Ketika Ayah Ultah..

ternyata kawan2 di kantor buat surprise ultah, tq ya semuanya, terimakasih atas dukungannnya selama ini...
Senin, 01 Juni 2009
surat buat sahabat ..
dua putramu melangkah di sisimu,
sebelah menyebelah hingga tak jarang tangannya terantuk tanganmu
janganlah terlalu cepat berjalan kawan..
agar keduanya tak tertinggal darimu
jangan lupa menuntun tangannya
agar mereka tak salah arah
heeeit.. ada selokan
cepat angkat keduanya agar tak terjebur ke dalamnya
heiii..hujan..
ambil payungmu agar mereka tak basah
dua putramu masih melangkah sebelah menyebelah
jangan tarik mereka terlalu erat
agar mereka masih bisa menghirup kebebasan
hingga mereka menjadi diri sendiri
walau hatimu terobek pilu
walau nyawamu seolah tinggal separo
jangan pernah isi relung kosongmu dengan derita
tapi penuhilah dengan canda mereka berdua
sudah waktunya..
kabut beranjak memudar
hidup bergerak mencari makna
dan putra-putramu tumbuh menjadi sempurna
Sabtu, 30 Mei 2009
Namira Bung Sakinah - Nadia raihan
Namira Bunga Sakinah
Aku masih ingat…
Lebih setahun beberapa hari, kita menetap di Banda ,Tepatnya Nov tahun 1999, Topik pembicaraan semua media , melulu “millenium” semata yang hanya beberapa depa lagi menjelma
Tapi tidak dengan kita di Banda.
Aku masih ingat…
Kita tinggal di Gampong Lambada, nun 10 kilo dari Banda ke Krueng Rayarumah nan nyaman, walau cuma kita sewa. Tiba-tiba semua berubah tanpa tanda. Jargon “referendum “ dimana-mana. Orang banyak menjadi gelisah Kita pun menjadi resah. Dan kitapun seia-sekata ‘tuk sgra “pindah”
Aku masih ingat…
Tergesa kita ke Pelabuhan Krueng Raya, Mengejar kapal Sangiang yang baru tiba, angkutan terakhir keluar dari Banda Aceh ke luar... Ratusan –mungkin seribuan lebih sdh di
Aku masih iugat…
Di kapal yang sesak, perut sang bunda mulai meronta, Mungkin kamu tidak nyaman di
Aku masih ingat
Tidak sampai 48 jam, kamupun muncul di dunia, Persalinan yang sulit, Ibu Bidan berkata, Tak mengapa kataku, asal bunda dan kamu tidak pa-pa, Kami dan sekeluargapun bersuka cita
Aku masih ingat
Bunda yang bangga dengan anak daranya. Dipilihnya nama untukmu Namira. Katanya itu nama mesjid di Arab tempat nenek dulu berdoa. Agar kami diberikan anak gadis, karena tlah ada 2 orang jaka. Agar sempurna ditambahnya Bunga Sakinah Imbuhan yang dalam maknanya, Tersirat limpahan cinta dan sebaris cita-cita
Aku masih ingat
Umurmu telah enam bulan, waktu kubawa kembali ke Banda. Rahmat Tuhan sang Pengasih mungkin selalu menyerta. Dirimu tumbuh menjadi bayi sehat tanpa kurang apa. Tubuhmu putih bersih tanpa cela. Penyakipun enggan untuk datang menyapa. Paling hanya flu dan batuk yg memang biasa bagi manusia
Aku masih ingat
Di saat lewat setahun lebih usiamu, banjir besar melanda Banda... Lambadapun tergenang, kamupun tergesa kubawa... Tanpa saudara, semua orang tergesa,.... sulit untuk mendapat bantuan rasanya... Lebih seminggu air dimana-mana
Aku masih ingat
Kota Medanpun menjadi tempatmu sementara, Bunda , abangmu dan kami menetap di
Aku masih ingat
Ketika kamu kembali lagi ke Banda
Dengan mimik khas bayimu, kamu hanya tertawa
Wujud Anugerah Tuhan, sebagai bayi tanpa dosa
Hari-haripun kita lalui dengan ceria
Dua “bencana” kau lalui, pengaruhnya ‘tak tampak
Aku masih ingat
Ketika kegawatan separatis melanda
Kontak senjata menjadi berkala
Suara bom dan letusan selalu bersuara
Banyak anak gelsah dan trauma
Tapi kau tetap biasa tidak pernah malam terjaga
Atau, makan menjadi kehilangan selera
Puji syukur kupanjatkan ke Yang Kuasa
Atas anugerah dan kekuatan yang ada
Aku masih ingat
Saat ada orang bersenjata satroni rumah
Datang ke rumah dengan berbekal senjata
Mengancamku dengan keras kepala
Dan sang bunda dengan parang siaga
Meninggalkanmu di kamar tanpa ada yang jaga
Lalu bunda bertekad, tantangan harus diterima
Nyawa boleh melayang, tapi jasad harus ada
Pantah mundur selangkah, ‘palagi berpuluh depa
Untung si orang bersebjata mengalah, keluar dengan lapang dada
Setelah diberi uang seadanya.
Lalu kami di kamar menjumpa dirimu, tanpa reaksi berbeda
Tetap tidur terlelap seperti semula
Syukurlah, kemudian masa damai telah tiba
Semua usai untuk dilupa
Aku masih ingat
Tahun 2004, ‘tuk mencari selokahan untuk Te Ka
Separuh Banda kita dan Bunda menjelajah
Selalu ada saja di matamu sekolah itu bercela
Yang ini ayunan tidak ada, yang itu TKnya sudah tua
Yang
Tapi akhirnya pilihanmu TK Ikal jua
Tempat Bang Ade-mu dulu skolah
Aku masih ingat
Betapa susahnya menetapkan kelasmu yang mana
Mestinya nol kecil, tapi tambun tubuhmu menjadi tanya
Masuk nol besar, takut kamu tertinggal pelajaran kelak
Akhirnya nol besar juga untuk sementara,
Dan ke nol kecil bila pelajaran tak sepadan
Aku masih ingat
Betapa dirimu benar-benar anak gadis sang dara
Yang memang jauh beda dengan abangmu yang jejaka
Cermin, mainan masakan dan boneka adalah “hartamu’
Waktu luangmu untuk bersolek dan bergaya
Aku masih ingat
Bang Putramu langganan XY-Kids, dan Bobo -Bang Ade punya,
Majalahku apa ? Kamupun mulai bertanya.
Maka setumpuk lagi majalah mulai berserak di meja
Ini yang sering membuat marah sang Bunda
Hari ini kamu pilih Barnie, besok Bobo Junior,
Kali lain Ino, bisa juga Bob Builder, atau entah apa
Bergantung seleramu, mungkin karena covernya menyala
Atau kadang bonus majalahnya menggoda
Bisa jadi sang abang membisik telinga
Agar sama-sama bisa dibaca
Aku masih ingat
Terkadang cerita dibacakan Bang Putra
Kala jenuh sang Bunda yang biasanya membaca
Atau sering Bang Ade yang satu persatu mengeja
Sang ayah-mu , hanya sempat beberapa
Aku masih ingat
Tokoh kegemaranmu adalah Poh –tokoh teletabis warna merah
Film dan CD kesekuaanmu, Barbie, si gadis jelita
Hobbymu menggambar dan mewarna
Crayon, spidol dan pensil warnamu harus tersedia
Karena inilah senjatamu untuk berkarya
Ketika sang abang mengerjakan PR, kamu duduk di sebelah
Di atas meja lipat dengan tekun menggurat ke sini
Membentuk gambar penuh nuansa
Jarimu cukup lincah, kata sang Bunda
Dibanding abangmu pada usia yang sama
Katanya guratan pinsilmu tidak keluar area gambar
Aku masih ingat
Menjelang lahir adikmu, kami bertanya, pingin adik seperti apa
Adik cewek atau laki, terserah kamu saja
Dengan lucu kamu bilang tidak keduanya,
Pinginnya adik kecil bersayap, seperti TV selalu punya cerita…
Aku masih ingat
Ketika kelahiran adikmu –yang lalu diberi nama Nadia
Karena selalu kamu pamerkan ke teman tetangga
Dan kamupun sering menjaga tanpa membantah
Tugas utamamu mengayun kala sang Bunda lelah
Atau mencari botol dot, waktu tangis Nadia menggema
Walau terkadang irimu terasa
Kok selalu dibeli baju Nadia terus, kapan punya Namira
Beberapa kali kamu juga hitung celana Nadia
Kali lain kamu bersungut krn waktu mainmu tersita utk menjaga
Tapi itu semua tidak dapat menipu mata
Bahwa sayangmu pada Nadia, benar adanya…
Aku masih ingat
Lebaran 2004 ketika tiba di
Sudah 2 tahun tak terasa,
saat terakhir kita dengan nenek lebaran bersama
Suasana riang selalu gembira, sang Nenek telah bersua
Inilah pertama nenek melihat adik kita Nadia
Bayi mungil 4 bulan yang selalu kau bangga
Tak berhenti kamu berceloteh tentang dia
Selolah hanya Nadia satu-satunya bayi di dunia
Aku masih ingat
Dengan bergegas kita harus kembali ke banda,
Karena masa sekolah sekolah tiba
Tapi kamu ngotot ultahmu harus ada acara
Tepat 21 November ulathmu meriah, saat usiamu mencapai 5
Jam 7 bis ke banda sudah menunggu, usai pesta jam 5
Hadiah dan kadomu tidak sempat dibuka
Semua dibungkus ke kotak seadanya.
Dan hampir semua saudara mengantar turut serta
Ternyata inilah terakhir kita semua bersua…
Aku masih ingat
Ketika Awal Desember aku ke luar
Minta oleh-oleh seperti biasa,
Atau merengek mengadu krn usil Bang Ade dan Bang Putra
Dan waktu Jum’at aku sudah di beranda
Kau sambut seperti berabad tak jumpa
Aku masih ingat
Tak sabar kamu tanya kado apa yang dibawa
Secepatnya kamu buka kotak yang ada
Baju dan mainan kesukaanmu ada di
Seperangkat spidol gambar yang banyak turut serta
Segera kau coba sebisanya seolah esok hari tak ada
Lalu kau berencana kelak akan kamu bawa ke TeKa
Mau pamer ke kawan dan pamer ke tetangga
Aku masih ingat
Semua itu semua belum terlaksana
Hanya dua hari berselang, prahara telah menerpa
Tsunami meluluhlantakkan
Lalu kau hilang entah ke mana
Terhempas dari lenganku, tercampak tak tetntu arah
Hanya Tuhanlah yang tahu pasti di mana
Aku masih ingat
Dua prahara telah kau lalu di Banda
Banjir besar dan ancaman GAM bersenjata
Tapi yang ketiga, mungkin Tuhan punya Kuasa
Kita semua mahluk yang fana tanpa daya
Jadilah aku sang ayah, tanpa bunda
Hilang sang kekasih hati Namira,
Lenyap sang bayi Nadia
Tuhan…..
Bercucur sudah air mata
Kering hati telah meronta
Mengapa seberat ini aku kau coba ?
Dosa apa kami, hingga terjadi ini semua ?
Entahlah….
Tuhan….
Kuihlaskan semua yang terjadi sudah
Kaulah yang punya Titah, Kaulah Yang Punya Kuasa
Cuma satu yang aku pinta..
Tempatkan mereka di sisimu, surga yang mulia
Sayangilah mereka melebihi sayangku pada mereka
Jagalah mereka dengan limpahan rahmat
Kuatkan hatiku atas kehilangan mereka…
Selalu kuingat firmanku selalu berkata
Di balik setiap musibah selalu ada berkah
Setelah kesulitan ada kemudahan menyerta
Tuhanku…
Sembah sujud kuhadap di depan kau punya Kuasa
Kabulkan , ya Allah apa yang Aku pinta
Agar ku menjalani hidup dengan lega
Tanpa perlu menista segala peristiwa
Yang telah terjadi depan mata…
Maafkan aku, yang Allah yang Maha Kuasa
Jika terlalu banyak yang kupinta
Punyamu segala ada yang di jagad raya
Kami semua adalah mahkluk yang fana tanpa daya…
Mohon ampun atas segala dosa
Yang mungkin terbuat dengan sengaja
Amin Ya Allah…
By; agam,
lampulo-lamgugob-poncowati <>
Catatan :
Kupersembahkan untuk mengingat anak ketiga kami Namira Bunga Sakinah, yang hilang dengan sang Bunda dan adiknya Namira
Sabtu, 22 November 2008
Doa Perjalanan
Jumat, 21 November 2008
Ade Kemsa
ananda ade kamping ke Sibolangit.
Ini mungkin kemah pramuka pertama ananda... Ada kekhawatiran juga karena baru saja
sembuh dari flu... Tapi ayahanda tidak ragu, semoga sehat selalu. Tadi Bu Butet SMS
kalau rombongan kalin 5 (lima) bisa sudah berangkat... Nanti cerita ya gimana hasilnya...
Apa sebenarnya manfaat camping :
- melatih kemandirian
- belajar mencintai alam yg merupakan Rahmat Sang Illahi
- tahapan melatih leadership
- mengalami kehidupan bersosialisasi
- meningkatkan rasa percaya diri
- Untuk tahapan pertama lokasi jgn terlalu jauh
- Usahakan ornag tua tahu cara mencapai lokasi kegiatan
- Catat nomor HP pembina, guru atau pembimbing siswa
- Siapkan tas atau ransel yg ringkas dan komplit, jaket
- Bawa obat-obatan yg mgkin perlu, autan (anti nyamuk)
- Berdoa sebelum berangkat
- Yang harus dibawa Senter, Mancis,, Radio, Pisau Saku,Peralatan P3K
- Barang2 pribadi : sikat gigi, sabun, shampo, dll
- Jika agak lama : jas hujan bisa juga dipertimbangkan
- Hape
sumber gambar :http://www.kidgearsforcamping.com

